Kamis, 22 Okt 2026
  • Lifelong Learner With Excelent Character anda Global Competence
  • Lifelong Learner With Excelent Character anda Global Competence

PARENTING COURSE, Membangun Perilaku Disiplin Anak: Apa yang harus dilakukan orang tua?

SMP YPS Singkole melalui tim Guru Bimbingan Konseling menyelenggarakan kegiatan Parenting Course pada Senin/28 Agustus 2023 bertempat di Hall Pepumpua Lawewu. Parenting Course ini diperuntukkan bagi orang tua peserta didik yang mendapatkan rekomendasi BK berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan selama bulan agustus 2023. Parenting course pada sesi ini mengangkat topik membangun perilaku disiplin anak: apa yang harus dilakukan orang tua? Pemilihan topik parenting course ini diangkat berdasarkan temuan analisis hasil survey BK yang melibatkan orang tua, siswa, dan guru. Sekolah menghadirkan narasumber Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. yang merupakan praktisi parenting dan Dosen ahli/guru besar dari Program studi Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.

Semakin bertambahnya usia anak, maka kemungkinan semakin sulit juga dirinya untuk diatur. Anak merasa sudah semakin besar, sehingga dapat mengatur dirinya sendiri. Maka dari itu, orang tua harus menerapkan kesepakatan baru agar anak dapat tetap disiplin tanpa mengekang. Salah satu tujuan dari mendisiplinkan anak adalah dengan mendapatkan lebih banyak kendali tanpa perlu mengontrolnya. Orangtua harus menetapkan strategi yang lebih cerdas dan ampuh sehingga anak tidak dapat mengelak saat melanggarnya. Meski begitu, kebebasannya juga perlu diperhatikan untuk menjaga optimalisasi perkembangan kreativitas.

Hasil Survey

Orang tua merupakan mitra pendidikan bagi sekolah dalam mendukung pemenuhan kebutuhan belajar anak. Membangun sinergitas sekolah dan orang tua perlu kesamaan pemahaman konsep pendidikan dan pendekatan yang diterapkan. Hasil survey awal BK sekolah tentang keluhan orang tua mengenai perilaku anak menemukan data bahwa ada 5 perilaku dengan jumlah keluhan terbanyak dari orang tua. Kelima perilaku tersebut adalah kecanduan gadget 48,61% siswa , malas belajar 6,94%, disiplin diri 6,48%, pengaturan waktu 6,48%, dan enggan disuruh 4,63%. Nah karena itu, parenting course untuk sesi senin/28 Agustus 2023 diikuti oleh 80 orang tua siswa yang menjadi direkomendasikan berdasarkan asesmen tindak lanjut dari hasil survey ini.

Pandangan Ahli

Berdasarkan data hasil survey di atas Prof. Abdullah Pandang menyampaikan pandangan bahwa kesemua perilaku negatif anak itu hanyalah asap dari sumber bara api. Oleh karen itu, jangan menghabiskan waktu dan energi menangani asapnya, tapi cari dan padamkan sumber apinya. Menurutnya, ada dua lokus sumber api munculnya perilaku negatif anak yaitu faktor internal diri anak seperti mindset, pikiran, emosi, daya respon, believe, motive, habit, serta faktor eksternal dari luar diri anak yang memacing, menyeret, menyumbat, atau mendukung munculnya perilaku negetif tersebut. Dalam hal ini, anak-anak kita boleh jadi memiliki sifat yang introvert atau ekstrovert, sehingga perlu penanganan yang tepat baginya.

Kita saat ini sedang berada di era digital, sehingga tantangan yang dihadapi orang tua salah satunya disebabkan adanya problem gap generasi. Di mana anak sebagai generasi millenial, generasi Z, dan generasi alpha saat ini merupakan digital native sehingga gadget memang sudah menjadi “tools utama” dalam hidupnya. Sedangkan orang tua sebagai generasi X merupakan digital migrant sehingga terjadi benturan pandangan dan gaya hidup, benturan sikap dan pola perilaku, benturan pola dan gaya belajar.

Apa yang harus dilakukan orang tua?

Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. memberikan 5 tips bagi orang tua dalam menangani anak yang sejatinya sebagai digital native yaitu:

  1. Didik anak sesuai zaman. Merujuk pada pesan Ali Bin Abu Thalib “ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”
  2. Menyelaraskan sudut pandang. Orang tua perlu memahami perbedaan sudut pandang dengan anak, karena itu orang tua perlu melihat dari sudut pandang anak, lalu membantu anak melihat dari sudut pandang orang tua. Setelah itu orang tua lakukan penyelarasan sudut pandang, lalu negosiasikan harapan dan keinginan.
  3. Menjadi pendengar yang baik. Sebagian besar anak yang memiliki problem hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi pendengar. Mereka hanya butuh didengar keluhan, pikiran, ketidaksetujuan, kemarahan, ketidakmampuan, kesulitannya, dst.
  4. Hindari main ancam, main paksa. Anak-anak tidak boleh dididik dengan ketakutan. Mereka jangan dibina dengan paksaan-paksaan yang tidak mereka pahami. Merujuk quote dari Gary Gore bahwa pendidik yang memaksakan kehendaknya kepada anak-anak, secara tidak sadar sedang mengajarkan bahwa kebenaran itu (harus dilakukan) dengan paksaan.
  5. Jangan menyalahkan, bantu dan didik mereka. Perilaku positif dan negatif itu hasil belajar, bukan kodrat dari lahir, buah dari proses panjang berinteraksi dengan lingkungan. Perilaku negatif tidak berubah hanya dengan marah, jengkel, dan menyalahkan. Tidak bisa dibeli di toko seperti sepatu dan seragam. Butuh proses Re-Learning dan pembiasaan kembali.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar