
SMP YPS Singkole melalui tim Guru Bimbingan Konseling menyelenggarakan kegiatan Parenting Course pada Senin/28 Agustus 2023 bertempat di Hall Pepumpua Lawewu. Parenting Course ini diperuntukkan bagi orang tua peserta didik yang mendapatkan rekomendasi BK berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan selama bulan agustus 2023. Parenting course pada sesi ini mengangkat topik membangun perilaku disiplin anak: apa yang harus dilakukan orang tua? Pemilihan topik parenting course ini diangkat berdasarkan temuan analisis hasil survey BK yang melibatkan orang tua, siswa, dan guru. Sekolah menghadirkan narasumber Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. yang merupakan praktisi parenting dan Dosen ahli/guru besar dari Program studi Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
Semakin bertambahnya usia anak, maka kemungkinan semakin sulit juga dirinya untuk diatur. Anak merasa sudah semakin besar, sehingga dapat mengatur dirinya sendiri. Maka dari itu, orang tua harus menerapkan kesepakatan baru agar anak dapat tetap disiplin tanpa mengekang. Salah satu tujuan dari mendisiplinkan anak adalah dengan mendapatkan lebih banyak kendali tanpa perlu mengontrolnya. Orangtua harus menetapkan strategi yang lebih cerdas dan ampuh sehingga anak tidak dapat mengelak saat melanggarnya. Meski begitu, kebebasannya juga perlu diperhatikan untuk menjaga optimalisasi perkembangan kreativitas.
Orang tua merupakan mitra pendidikan bagi sekolah dalam mendukung pemenuhan kebutuhan belajar anak. Membangun sinergitas sekolah dan orang tua perlu kesamaan pemahaman konsep pendidikan dan pendekatan yang diterapkan. Hasil survey awal BK sekolah tentang keluhan orang tua mengenai perilaku anak menemukan data bahwa ada 5 perilaku dengan jumlah keluhan terbanyak dari orang tua. Kelima perilaku tersebut adalah kecanduan gadget 48,61% siswa , malas belajar 6,94%, disiplin diri 6,48%, pengaturan waktu 6,48%, dan enggan disuruh 4,63%. Nah karena itu, parenting course untuk sesi senin/28 Agustus 2023 diikuti oleh 80 orang tua siswa yang menjadi direkomendasikan berdasarkan asesmen tindak lanjut dari hasil survey ini.

Berdasarkan data hasil survey di atas Prof. Abdullah Pandang menyampaikan pandangan bahwa kesemua perilaku negatif anak itu hanyalah asap dari sumber bara api. Oleh karen itu, jangan menghabiskan waktu dan energi menangani asapnya, tapi cari dan padamkan sumber apinya. Menurutnya, ada dua lokus sumber api munculnya perilaku negatif anak yaitu faktor internal diri anak seperti mindset, pikiran, emosi, daya respon, believe, motive, habit, serta faktor eksternal dari luar diri anak yang memacing, menyeret, menyumbat, atau mendukung munculnya perilaku negetif tersebut. Dalam hal ini, anak-anak kita boleh jadi memiliki sifat yang introvert atau ekstrovert, sehingga perlu penanganan yang tepat baginya.

Kita saat ini sedang berada di era digital, sehingga tantangan yang dihadapi orang tua salah satunya disebabkan adanya problem gap generasi. Di mana anak sebagai generasi millenial, generasi Z, dan generasi alpha saat ini merupakan digital native sehingga gadget memang sudah menjadi “tools utama” dalam hidupnya. Sedangkan orang tua sebagai generasi X merupakan digital migrant sehingga terjadi benturan pandangan dan gaya hidup, benturan sikap dan pola perilaku, benturan pola dan gaya belajar.

Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd. memberikan 5 tips bagi orang tua dalam menangani anak yang sejatinya sebagai digital native yaitu:
Tinggalkan Komentar